Fri. May 29th, 2020

Pembawa Perubahan Pendidikan di Manokwari: Risna Hasanudin

3 min read

MANOKWARI: Perayaan Tahun Baru 2020 dan Natal 2019 baru saja berlalu, tetapi suasananya masih kental di Manokwari, Papua Barat. A Risna Hasanudin (31 tahun), seorang wanita Muslim yang tinggal di Manokwari, ikut merasakan kegembiraan.

Ia dapat merasakan toleransi tinggi sebagai bagian dari masyarakat minoritas. Tidak hanya diikutsertakan dalam perayaan, masyarakat sekitar rela mengganti bahan baku makanan karena keberadaannya.

Suasana belajar bersama anak-anak PAUD di Desa Kobrey.

Situasi saat ini bertentangan dengan suasana beberapa waktu lalu, ketika terjadi kerusuhan antar masyarakat di Manokwari. Pada saat itu, sistem belajar mengajar dihentikan karena kondisi yang tidak kondusif.

Risna tidak tinggal diam menghadapi situasi. Dia mencari jalan tengah dengan merencanakan diskusi terbuka di Manokwari Selatan dengan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) untuk mengurangi situasi menjadi lebih kondusif. Tujuannya adalah untuk membawa siswa dari sekolah menengah ke tingkat universitas untuk menemukan akar penyebab kerusuhan.

Singkat cerita, rasisme dan pelanggaran HAM disepakati sebagai penyebab utama kerusuhan tersebut. Diharapkan dengan diskusi yang intensif seperti ini, gejolak dapat diredam, diskusi berjalan dengan baik, sehingga siswa tidak banyak terpengaruh dan tidak mudah terpancing.

Kenapa Tertarik Papua?

Mulai sejak Risna memberi kuliah pada tahun 2006 di Ambon, ia sudah tertarik pada Papua dan melakukan kuliah kerja nyata (KKN) di sana. Dengan semua masalah yang ditemukan, Risna termotivasi untuk membantu dengan semua yang dia miliki.

Para wanita di Desa Kobrey sangat antusias membuat noken, tas tradisional Papua yang terbuat dari serat kayu.

Tak lama setelah menyelesaikan kuliah, Risna memulai perjuangannya. Dia tinggal di salah satu rumah di desa Kobrey selama dua tahun. Rintangan dan rintangan mulai berdatangan dari semua kalangan. Dia pernah tidak diterima oleh publik dan dianggap memalukan.

Risna juga merasakan kurangnya tanggapan dari pemerintah daerah. Saat itu, pendidikan belum disatukan. Dia menyadari, masih ada kekurangan pola pikir tentang pentingnya pendidikan.

Risna tidak menyerah. Dia mulai dengan mengajar wanita dan membuka Rumah Pintar Wanita Arfak. Dia juga membantu memasarkan produk-produk wanita Papua, yaitu Noken, tas tradisional Papua yang terbuat dari serat kayu.

Saat ini, perjuangan Risna telah memasuki tahun keenamnya. Dia tidak berhenti pada pendidikan melek huruf untuk wanita Arfak dan berhasil mengundang pemerintah daerah untuk menambah fasilitas Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di beberapa lokasi di Manokwari yang pada saat yang sama juga membuka lowongan untuk sukarelawan yang mau mengajar. Risna juga membuka perpustakaan untuk sekolah dan perpustakaan seluler secara gratis untuk meningkatkan minat baca.

"Alhamdulillah, biaya operasional dan biaya untuk sukarelawan sepenuhnya dibantu oleh pemerintah daerah," kata Risna. Hal ini membuat Risna senang atas dukungan positif dari pemerintah, sehingga program dapat berjalan. Selain itu, Risna juga diberikan fasilitas berupa rumah untuk tempat tinggal.

Dengan penduduk asli Desa Kobrey.

Selain pendidikan, Risna juga menjalankan beberapa program yang berfokus pada peningkatan gizi anak sebagai masalah serius di Papua. Dia membuka posyandu dan membagikan asupan gizi tambahan dalam bentuk susu dan kacang hijau.

Upaya Risna selama beberapa tahun terakhir telah membuahkan hasil. Perkembangan pendidikan di Papua terlihat secara bertahap. Salah satunya adalah tingkat pendidikan anak-anak di Kobrey, yang maju pada tahun 2018. "Jumlah anak sekolah di Kobrey telah meningkat pada tahun 2018. Biasanya hanya satu atau dua anak yang melanjutkan sekolah. Pada tahun 2018 ada 15 anak sekolah menengah, 17 anak sekolah menengah, dan bahkan 5 anak yang melanjutkan sekolah. Alhamdulillah, antusiasme sekarang luar biasa untuk sekolah, "kata Risna.

Kerja kerasnya telah diapresiasi oleh Astra melalui SATU Indonesia Awards 2015 di bidang pendidikan dan memenangkan hadiah sebesar Rp. 60 juta. Harapan Risna "sederhana ?, yaitu ingin membawa perubahan yang lebih besar kepada masyarakat Papua.

Semangat Risna untuk memajukan masyarakat Papua sejalan dengan cita-cita kemakmuran Astra bersama bangsa.

Pos Pembawa Perubahan Pendidikan di Manokwari: Risna Hasanudin muncul pertama kali AUTO2000.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.